Tuesday, July 07, 2009

Puzzle hatiku @512

Hatiku berhenti.
Dan hancur.
300 Bagian dari hatiku berserakan di jalanan.
Aku terduduk berlutut dan merenung sesaat, melihat dan memandang
bagian-2 tersebut. Aku menangis, dengan tangan ku
yang bergemetar kusentuh serpihan hatiku. ku sentuh
tiap bagiannya! tiap warna yang berbeda. Setiap sakit
yang kurasakan. Setiap kenangan pahit yang tercecer
bersamanya. dan aku menangis kembali!

Orang di sekitarku memandangi! mereka terlihat sedih sesaat dan
berjalan kembali! Aku bisa melihat keluargaku berjalan
melewati meninggalkan ku. 3 jam kemudian aku masih
terduduk di sini , memandangi serpihan - serpihan
hatiku! hari mulai gelap, hanya ada lampu jalanan menerangi.
dan dari cahaya kuning itu aku mulai beranjak duduk
bersila. Mulai kupegang serpihan serpihan tersebut.
kurangkai tiap - tiap bagiannya.

Di setiap serpihan
itu terdapat berbagai kenangan yang kusimpan. semua
kenangan yang menyakitkan yang membuat diriku bergemetar
dan dingin. Ada kenangan yang membuat diriku
tersenyum dan hangat.

4 hari telah berlalu. Aku
masih duduk disini. Berusaha merangkai kembali serpihan
serpihan ini. Hari ini hujan, gerimis. Ku coba menutupi
serpihan -2 hatiku dengan badanku! Aku tidak mau semua
kenangan - kenangan ini terhapus dengan air hujan. Aku
masih berusaha menutupi dengan sekuat
tenaga. Orang2 disekitar berlarian untuk menghindari
hujan! Tiba tiba seorang gadis mendekatiku, berjongkok dan
memeluk diriku. Ia membawa payung yang akhirnya
melindungi diriku, ia, dan tentu serpihan-2 hatiku.
Dipelukannya terasa hangat. Di dalam remasan rangkulannya
terjadi suatu kenyamanan di dalam diriku. lalu aku
teruskan usahaku untuk merangkai serpihan 2 hatiku yang
basah terkena air hujan.

Keesokan
harinya.Hujan telah berhenti. Gadis ini melipat payungnya dan
duduk disampingku. Ia melihat serpihan serpihan itu!
menyetuhnya perlahan - lahan dan mulai membantuku
merangkainya. 2 minggu telah berlalu. Serpihan2 di depanku
masih belum terbentuk! Gadis itu masih duduk
disampingku dan membantuku merangkaikan hatiku.

Tiba-tiba
alarm berbunyi dari saku gadis itu! Dia mengeluarkan
organiser dari saku jaketnya dan mematikan bunyi
itu. Sesaat ia terdiam. melihatku dan beranjak untuk
memelukku lalu pergi meninggalkan ku. Terdiam
sesaat, melihat ia pergi meninggalkan ku. lalu ku
lanjutkan usaha ku untuk merangkai kembali hatiku.

12 jam kemudian. Pagi hari, tanganku kaku
kedinginan. Aku berusaha menghangatkan kedua lenganku serta
serpihan serpihan hatiku. Dengan menggosokan kedua
tanganku dan menepelkannya kepada serpihan2
tersebut. Seorang gadis sedang berlari pagi. ia
melihatku. Terlelah raga. dia berhenti mencoba menghela napas yang
terhilang sesaat. Ia menghampiri diriku dan menarik
tanganku. Ia mengajakku berlari, berlari dari segala
kesedihan ku, berlari dan meninggalkan hatiku. Aku
menolaknya. dan melepaskan rangkulan tangannya. Dan ia
memandangku sejenak dan mengeluarkan bungkusan plastik
bening! Di dalam plastik itu terdapat serpihan2. yang
ternyata serpihan hatinya dia. Ia berjaln dan membuang
bungkusan itu kedalam tong sampah. Dan belari kembali
meninggalkan diriku. Aku kembali duduk dan merangkai
kembali hatiku.

3 hari telah berlalu. Serpihan2
hatiku yang 1/2 jadi sudah mulai terbentuk..

Dan
kemudian datang Dia! Dia yang membuat hatiku
hancur. Dia tersenyum melihatku. menghampiriku dan berjongkok
memelukku dan menciumku. 30 detik kemudian dia berhenti
menciumku dan beranjak pergi. Melewati depan ku dan
menginjak - injak hatiku yang 1/2 jadi. Aku menangis
berteriak. menutupi mukaku. memandangi serpihan2 hatiku yang
berantakan! Setiap serpihan serasa ikut berteriak kesakitan. ngilu
atas teriakkannya. aku duduk kembali. Menangis,
tersedak!

4 hari lamanya. Selama 4 hari itu aku menangis.
dan berhenti. Menghapus airmataku.dan kulanjutkan
kembali menata serpihan2 hatiku. Di saat yang sama
sebuah mobil berhenti dan turunlah seorang gadis. Ia
melihatku dan menyodorkan suatu kotak yang berisi 1 hati
yang utuh. Hati itu masih terdapat di dalam plastik
dan tercantum harga di sampingnya. Ia mengajakku
meninggalkan hatiku dan ikut bersamanya! Dengan segala
kerendahan hatiku aku menolaknya dan beranjak berdiri untuk
menciumnya. Lalu aku kembali duduk sementara ia masuk ke dalam
mobilnya dan pergi. Aku kembali menata serpihan2
hatiku.

1 minggu berlalu.

Aku duduk masih menata kembali
hatiku. Masih belum berbentuk apapun. akupun hampir putus
asa.

Lalu aku mendengar suara tangisan dari depanku. Dan
terlihat seorang gadis yang berjalan kearahku terisak
isak. Dia berdiri didepanku dan kemudian terduduk berlutut
dan menumpahkan serpihan-2 hatinya yang
hancur.

Serpihan2 itu bercampur dengan serpihan2 hatiku yang
hancur.Ia memandangku dan meminta maaf. aku tersenyum
kepadanya dan mengiyakan. Aku menawarkan bantuan
kepadanya untuk menata kembali hatinya. ia tersenyum,
menghapus Airmatanya dan mengiyakan. ia terduduk berlutut
dan mencoba menata kembali hatinya. Tangannya
bergemetar saat ia mencoba mengambil serpihan2 itu. Ku
genggam tangannya dan mencoba menenangkan dia. ia
tersenyum dan menghapus airmatanya. Kita berdua duduk
saling membantu menata kembali hati kita
masing-masing.

2 tahun berlalu tidak terasa. Aku tertawa
melihat ia tersenyum. senyumannya membuat ku merasa
nyaman disampingnya. Ia menyodorkan satu kepingan
hati untukku tata. saat itu juga ia melihatku dan
menciumku. Aku beranjak untuk membalasnya. Terasa kehangatan
yang hilang sebelumnya. segala sesuatu balik
kepadaku. semua kesakitan hilang dalam sesaat dan tak
terasa kembali. ia mengajakku pergi.

Aku mengiyakan.
Lalu kita pergi meninggalkan serpihan2 hati yang
hampir membentuk 2 hati yang terkait menjadi satu.

Wednesday, June 26, 2002

Jembatan

"kelak jembatan itu selesai, nak!" jawab seorang ayah,
ia menunjuk kearah bebatuan besar di tepi kali.

"wahh ayah hebat" anaknya mengacungkan jempol tangannya,
lalu memeluk ayahnya.

"tapi ayah? aku rasa jembatan itu sudah selesai.."sang anak
melepaskan pelukannya dan melihat kearah ayahnya.

"belum nak, jembatan itu belum selesai." lalu sang ayah menggandeng
anaknya dan mereka menyeberangi kali itu menggunakan jembatan
bebatuan.

sesampainya mereka diseberang sang anak bertanya "sudah selesaikah
sekarang jembatan itu ayah?"

ayahnya tersenyum mengangguk

Utamaputranto @918

notabene: Niat adalah suatu essensi perbuatan
Omongan Radio

'gelap intrik tampil
suara bapak2 terdengar
kotak mati hiduplah
ntuk senyum di kecilku'

radio : "this is the abc....". bahasa aneh yang aku takkan mengerti sudah seminggu aku mendengarkan radio ayahku. tapi satu2nya hiburanku adalah radio ini.... aku tak akan mengerti apa yang mereka omongkan tapi terkadang lagu-lagu bisa kudengarkan dengan enak..! ayahku menganguk-anguk seperti iya mengerti tapi sama saja denganku yang berumur 5tahun ia tak mengerti sedikitpun yang radio itu omongkan. tapi yang kulihat dari ayahku kecintaannya untuk mendengar radio. betapa senangnya ia untuk pulang ke rumah mencopot celananya, memakai sarung dan duduk didepan radio. tak aku ketahui darimana ia bisa mendapat kan radio ini tapi untuk seorang klerek* pastilah ia dapatkan radio ini dari atasannya. seringkali kudekap ia mencari perhatiannya dan ia kerap berkata "suatu saat kau akan mengerti apa yang radio ini omongkan".

tidak selalu radio itu berbicara. ada kalanya ia hanya berbisik dan tak lagi
terdengar apa yang ia katakan. saat itu ayah hanya terdiam menunggu. mengaharap
bisa mendengar apa yang radio itu bisa bisikkan. serasa semua terdiam menunggu
komando yang akan di bisikkan secara diam2. dan tiba2 suara seorang wanita bergema dan seperti memberikan perintah memekakkan telinga dan membuat semua orang terlompat dari kursinya. radio: "KALIAN INI MENDENGARKAN APAAN? TIDAK ADA SUARAPUN KALIAN DENGARKAN JUGA". ternyata itu hanyalah suara ibu yang berteriak dari sebelah tembok. kami terduduk kembali dan mengharap bisa mendengarkan lagi komando yang dibisikkan. aku lari keluar untuk bermain dan mendapatkan ibu yang sedang menjemur nasi kering tergeleng2 melihat kelakuan ayah.

Semuanya sama sampai suatu hari radio itu membangkang dan berperang mengeluarkan api. ayahku panik melihat asap yang keluar dari kotak itu. ibuku yang tengah mencuci beras lari dengan membawa air berasnya dan menyiram ayahku yang tengah membawa radio dari atas meja. senyum kecilku tak tertahankan melihat tingkah mereka. radio itu terlihat sedih. mungkin seperti orang yang marah yang membungkam diri tak ingin berbicara. ayahku sedih juga, tak bisa ia melihat kemana arahnya setengah lingkaran yang ada jarumnya. Semuanya terdiam melihat sedihnya ayah...

sejak itu ayah tak pernah lagi dirumah. ia selalu kerumah tetangga untuk mendengarkan radio. dan aku dirumah sendiri untuk bermain dengan radio yang marah pada ayahku. berulang kali aku membujuk radio itu untuk bicara. kupeluk, kucium, kusayang. tapi entah sampai kapan aku lakukan hal ini berulang kali tapi radio itu tak kunjung reda akan marahnya. "tolong lah radio, bicaralah! aku kasihan pada ayahku. ia ingin mendengar mu." tapi tetap saja radio itu tak mau bicara. hampir putus asa untuk terus membujuknya tiap hari agar ia berbicara lagi kepada ayahku.

sampai suatu saat ku memeluknya, radio itu lalu berkata. radio: "Tak usahlah kau risau, ayahmu akan baik-baik saja. terima kasih untuk perhatianmu kepada ayahmu. sampai kita berjumpa lagi". aku terkagum mendengar tersebut. kulari mendapati ayahku tengah berada dibalik tembok sedang merokok lalu ku peluk ia dan bercerita mengenai omongan radio. ayahku tersenyum lalu menggedongku. tak ada yang bisa membuat ayahku sedih sekarang. setelah apa yang diomongkan radio membuatku tersenyum kecildan bahagia.


utamaputranto @352 *Klerek : pengurus administrasi keuangan.
"air datang menghantami bumi
dalang tak diketahui
dan penangkalpun tak ada yang memberi"

Hujan..itu deras
Terkadang menghimbau manusia untuk pulang
Agar mengetahui ia tak bisa menghindar darinya
Tapi aku terlalu bersabar untuk menghindar
Kulalui tetes demi tetes air dingin
Yang menginginkan aku berpeluh linu padanya
Terbayang bayang diujung gang itu
Tempat yang memberikanku sesuatu yang aku perlukan di hidup ini
Kesadaran atas diriku
Ingin aku mengingatnya, tapi kenangan itu begitu menyakitkan
Sehingga aku terasa bahagia bisa merasakannya
Indahnya hidup ini dan kabut jakarta dalam hujan


KABUT JAKARTA


Saratnya hidupku.Setelah kau menginggalkanku
dalam kegelisahan tidurku aku terbangun dan mendapatkan kau terbaring disampingku. Secara realita kau memang tidur disitu tapi pikiranku mendapatkan kau dalam sebuah siksaan. mendapatkan diriku sebagai siksaan terakhir, ingin aku rangkul dirimu, dan meniupkan prasangka itu pergi. Kegelisahanmu menghantuiku selamanya. Ingin kusudahi hubunganku denganmu dan membebaskanmu dalam perangkap kasih yang kau peroleh.
Tapi lagi kau tidak ada di sebelahku, hanya seorang gadis yang tidur disebelah ku.Gaisha telah mengetahui bahwa hubungan kita tak lagi berarti setelah ia mengetahui hubungan kita sebelumnya.gelisah ia berada disampingku. Bahkan dalam tidurnyapun ia tak ingin lagi memelukku. Sangat berperasaan ia untuk menghendaki kebaikanku. Dan sangat mulia nafsunya untuk menggantikanmu. Aku juga menginginkan hubungan ini dengannya.


JAM 5.30
Waktu itu seperti menyuruhku untuk tidur kembali.
Tapi beraninya Waktu itu menyuruhku, dengan bermuka geram aku kembali berbaring, seperti anak kecil yang membangkang aku kembali tidur.
Gelap merangkulku dengan remang-remang gambaran cahaya yang dapat kugerakkan dengan bola mataku. Kemudian bayanganmu tampil kedalam kegelapan pelupuk mataku menghantuiku sepanjang mimpi itu.
Dan ingatan telah mengambil mimpi itu sehingga aku lupa dan lelap tertidur sementara.

Terbangun aku kembali...kali ini geisha telah tak ada disampingku,
Aku terbiasa untuk mengambil cangkir kopi yang Gaisha telah seduh untukku.
Lalu mencium keningnya, Gaisha terlihat cantik pagi hari ini . membuat pandangan mataku bepeluh pada satu titik fokus dari wajahnya, dari hidung, bibir sampai ke arah cangkir kopi itu.
Kupandangi dengan penuh keraguan akan sadarku.
Gaisha menciumku kembali dan sekali lagi. Bibir itu terasa linu didalam dinginnya perkataannya untuk pergi dalam berberapa hari. Aku tak terlalu mendengarkannya aku lebih memperhatikan cara ia mengenakan pakaian. Tak ada yang bisa menarik perhatianku.

“aku harap kau mengerti sayang... aku harus ke.......”

“Sepertinya aku masih dalam tidurku” dalam hatiku, seperti yang kukatakan sebelumnya tak ada yang bisa menarik perhatianku. Pernyataan itu lebih lah pahit dari pada kopi ini. Tetapi kemudian lidahku memberontak atas pernyataanku. Dan memberikan rasa pahit abu serbuk biji kopi yang kuteguk.

Dengan Geisha menutup pintu ia meninggalkan aku sendiri di ruangan ini.
Hening sesaat membuahkan pikiran untuk kegiatanku hari ini
Sebuah kalender kecil bertandakan hati mencabut khayalku
Dan teringat tanggal hari ini

20 Oktober 1989

Tertera pada nisan kayumu
Setelah 1 tahun aku berdiri lagi didepanmu
Nisan itu mencantumkan saat pertama kali aku menaruh tubuhmu
Aku berdiam diri sesaat membayangkan raut mukamu
Saat-saat aku berhadapan dengan kematianmu
Aku menangis di dalam batinku
Maafkan aku tak pernah mempunyai hati untuk menjengukmu
Jika saat-saat itu berat
Akupun lagi-lagi egois tak memikirkan dirimu
Bagaimana kau sekarang sayang?
Maafkan jika aku tak begitu mendengar jawabanmu
Maafkan jika aku tak berhak bertanya
Pertanyaanku setahuku tulus.....
Tetapiku tahu kau tetap tak berhak menjawab
Maafkan jika aku telah berharap
Tetapi
Aku ingin melihatmu
Menghirup jiwamu dalam kesenangan
Mengharap indra ku salah akan kematianmu
Bangunlah sayang, tolonglah kau bangun
Aku lakukan apa saja asalkan kau bangun
Dan sekali lagi maafkan aku kalau aku berharap

Aku menaruh kembali bunga mawar itu. Menggantikan rangkaian yang kutaruh 1 tahun sebelumnya. Bau tanah pada perkuburan itu semerbak pada pagi ini. Tetapi tak ada yang bisa kulakukan sekarang disini, telah lelah aku menangis diatas kuburanmu.
Tak terlebih aku tak mau membuat keluargaku khawatir atas diriku yang mencoba tetap berada disini menemanimu. Tak akan lagi seperti 1 tahun yang lalu.
Langkah-langkah itu berat menghantar aku pergi. Seperti setiap kali aku melangkah kau mencoba merangkul kakiku dan memohon untuk tidak pergi. Dan tak terasa aku telah menjalani hariku-hariku seperti hari biasa.
Sampai aku tak menyentuh waktu kalau Pak Jarod, atasanku, tidak memberitahuku bahwa malam telah menyuruhku kembali pulang kerumah.

“18.30 kamu mau lembur hari ini?” Ia menyentuh bahuku seakan akan ingin aku beranjak dari mejaku dan lari kembali pulang dan meninggalkan kantor malam ini.
Pak Jarod, tidak semestinya aku panggil ia begitu ia temanku saat aku masih kuliah. Teringat ia selalu menceritakan segala masalahnya di warung kopi kampus, secara sepintas dari masa itu dan sampai sekarang ia masih terus mencurahkan cerita dan keluh kesahnya sampai saat ini. Dari pacar sampai istri, problema itu berkembang tanpa ada habisnya, dan menciptakan indahnya kehidupannya.

“Aku mengerti hari ini kau sedang bersedih! Tapi kau mempunyai berbagai hak untuk bersedih. Aku selama ini selalu disini bukan San...Insan Narwan namamu saat pertamakali kukenal. Jaman berlalu cepat yah... dari kau memanggilku Jarod Jemarod sampai kau sekarang memanggilku Pak Jarod. Sudah berulang kali panggillah aku dengan namaku seperti dahulu, meskipun di kalangan pegawai akupun tak apa-apa. Tapi awas kau memanggilku Pak di depan keluargaku. Karena Karin telah memarahiku beberapa kali. Bukannya aku takut dengan istri sendiri tapi kali ini ada benarnya karena pada awal aku hanya tertawa pada panggilan itu di kantor ini. Tapi begitu kau memanggilku begitu aku seterusnya aku terasa kau telah melupakan teman lama.” Aku tertawa geli di perutku. Ingin menahan raut mukanya saat ia menyatakan tidak takut pada istrinya. Senyumku telah membuatnya senang.

“ Nah...begitu San, aku mau kau cepat melupakan sedihmu. Biarlah dia beristirahat tenang. Aku senang melihatmu sekarang. Bagaimana kalau kau mampir kerumahku malam ini. Boleh dong kita berkumpul lagi, lagi pula sudah terlalu malam, Karin akan curiga kalau aku pulang kantor malam-malam begini.” Aku mengiyakan lalu kita beranjak dari kantor dengan raut muka sang mahasiswa yang menikmati masa kuliahnya. Tanpa ada halangan, tanpa ada beban, terkecuali adanya kuis dadakan di hari itu. Kembali ke tempat kost dan menyiapkan kopi untuk bercerita, bercanda di

RUANG TERAS

Yang remang itu masih seperti dahulu. Betapa senangnya kursi itu menyapaku.
Dan andaikan dinding-dinding ini bisa memancarkan kenangan-kenanganku dahulu bersamamu. Dari saat kubertemu dirimu. Sampai saat Ibunda Jarod menutup semua pintu dan jendela untuk mengusir tamu wanita yang datang. Mukamu bersinar di kaca meja tamu. Aku berharap bisa mengenal dirimu saat itu. Tiap kata-katamu teringat dan tergores dalam kaca benakku. Susah untuk menghapus tiap goresan itu. Dan setiap kali aku mencoba mengingatnya Jarod menawariku untuk menambah kopiku. Membuat goresan itu kabur di permukaan kenangan.
Untuk sepenuhnya berterus terang aku tak pernah menyukai seduhan biji kopi ini. Tak membuatku untuk menahan kantukku. Dan pahitnya membuat hariku terasa hambar. Tapi selama biji kopi ini membuat percakapan. Toleransiku bertahan sesaat. Jarod dan Karin adalah sebuah cerita cinta terbaik abad ini. Hal ini akan terus bertahan di dalam benakku selamanya. Aku akan merapatkan mereka meski mereka terpisah jauh. Aku akan membuat mereka saling jatuh cinta tanpa ada percakapan. Dan aku akan selamanya bahagia mengetahui mereka bahagia pada sesaat ini. Terlintas percakapan mengenaimu, lalu aku terdiam sejenak. Suanana terasa lebih sunyi, seolah-olah seorang telah mematikan volume pada percakapan dan kebisuan tetap merangkap suasana.

“Aku turut bersedih, San. Tapi bukannya kamu sudah ada Gaisha disampingmu?”
nama itu muncul tiba-tiba di dihidupku dan dipercakapan ini. Hal ini tidak membuatku sedih maupun senang. Tapi lega bahwa dirimu telah diingat dan di gantikan olehnya. Mungkin hatiku tidak mengatakan sejujurnya tapi dirimu telah melekat didalamnya.
Masamnya akhir percakapan itu tidak membuat malam ini tenang. Hujan mulai deras membuatku enggan beranjak untuk pulang kepada kekosongan rumah sendiri. Kuberdiam diri beranjak menuju kamar kostku. Bersih sepertinya segala sesuatunya terlihat bersih tak seperti kamar kostku, kurogoh bagian bawah lemari dan mendapati fotomu. Telah lama sejak kuliat wajahmu secara 2 dimensi realita. Wajahmu tampak berbeda dengan bayanganku. Foto itu merupakan kenangan abadi mengenai kecacatmu, kau sangat mencintaiku. Kau terlebih berani dalam mengutarakan cinta itu. Dan yang kubisa lakukan hanya menerima cinta itu. Aku terjerat dalam cinta itu semakin dalam hingga kulihat wajahmu dalam tiap hari kubangun. Wajah itu begitu menenangkan jiwaku. Walau kau tak berada di sini. Tapi wajahmu sebagian tertinggal di sini. Tiap koridor memancarkan bayanganmu. Dalam setiap benda dan peristiwa jiwaku terserap di ruangan ini.

Pintu besar menanyakan diriku untuk masuk
Meja mempersilahkan aku untuk menaruh
Kursi menghimbauku untuk duduk
Dinding membisikkanku untuk mendengar
Lampu pijar membuatku untuk menerangkan
Jendela menyuruhku untuk membuka

(terjadi di ruangan hatiku)

Dan dirimu kerap berkata ‘lakukan yang kau bisa’. Tidak terlalu susah untuk orang biasa sepertiku. Aku bisa mencintaimu, sangat indah perkataan itu sampai aku merasa bisa membuktikan kepadamu keberanianku untuk menerima cintamu. Tiba-tiba terasa bahwa diriku tak lagi sendiri di ruangan ini. Seperti sepasang mata telah mengawasi segala perbuatanku. Kegelisahan ku berlanjut dan melihat sekeliling. Jarod berada di ambang pintu dan memberitahukan bahwa ia akan membawakan bantal selimut untukku. Lalu ia pergi. Tapi tatapan mata itu tetap ada di dalam perasaan diriku. Sangatlah aneh jika aku akan melihat keselilingku lagi tak ada apapun yang bisa menjelaskan. Akupun berbaring di ranjang itu. Sangatlah tidak nyaman. Dan tak lama aku tertidur tanpa menghiraukan adanya bantal selimut yang akan dibawakan. Sepasang mata itu tetap berada di situ menganggu tidurku. Membuatku terbangun dan mendapati bantal selimut tergeletak disampingku.
Jarod terlalu baik kepadaku. Ia tak berani membangunkanku.

Tapi sinar matahari berani sekali
Membangunkanku dari kemarahan, kesedihan, mimpi-mimpi burukku
Tapi terimakasihku matahari untuk sinar kehidupan itu
Karena hari menjadi hari karenamu matahari
Dan hari itu berlangsung cepat sampai kau hilang
Lalu kudapati kusendiri berada dalam rumahku
Dan 1 haripun telah berlalu

Gaisha belum balik. Ia selagi berjiwa muda. Dan mendapatkan dirinya sebagai pramugari. Walaupun begitu aku pun terlalu sibuk untuk melupakan dirimu. Sehingga ia tak ada lagi waktu untuk menghadapimu.
Di rumah ini kau tak ada. Aku baru pindah di rumah ini. Gaisha dan aku pindah kerumah ini untuk bisa bersama.

Kami belum menikah.

Begitu ingin aku membayangkan kau berdiri di depanku. Mengagumi rumah ini. meskipun rumah ini tidak terlalu megah aku bisa membayangkan dirimu menyukainya. Tapi aku pun tidak begitu mengenal rumah ini.
2 bulan bukanlah cepat untuk mengenali suasana rumah yang baru.
Gaisha menyukainya. Jadi aku tidak terlalu memikirkannya.
Juga ia tak pernah tinggal begitu lama di rumah ini.

Terdengar suara adzan, dibalik lirih angin bersiul diantara teras atas.
Aku tertidur diantara sofa. Terkilas bayanganmu tersenyum didalam bingkai foto.
Bayangan itu memudar dan berubah. Tiba-tiba wajah itu muncul. Berbekas di mukanya nanah dan sobekan-sobekan kulit. Dan lobang mata itu kosong, tanpa adanya bola mata. Aku kaget tersedak dan menendang bingkai itu. Lalu kulihat sekelilingku untuk arah sosok dari bayangan itu. Tapi tak ada siapa –siapa di sekelilingku. Aku terbayang sesaat bayangan itu begitu menakutkan, tak kusadari aku adalah penghayal. Tapi tak pernah aku menghayalkan hal-hal seperti ini. Jika memang benar itu khayalanku. Takut ini meradang keseluruh badanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Terpikir lemahku dalam menghadapi ini.

Apa aku menjadi gila? Pertanyaan ini membakar konsiderasiku dalam warasnya diriku. Dan lobang mata itu terpintas lagi di pikiranku.
Begitu dingin pantaskah wajah itu hanya terpikir olehku dalam sebatas malam impianku. Aku harus pergi dari rumah ini. Kulari dan menuju mobilku.

Jakarta begitu sepinya malam ini. Dan kabut malam menyelimuti setiap lampu jalanan. Gerimis ini menandakan besarnya hujan yang berlalu beberapa menit yang lalu. Sangat kusayangkan kewarasanku. Aku tak sadarkan diri tadi, itu merupakan sesuatu yang dapat melegakan diriku. Bahwa bayangan tadi hanyalah sebuah mimpi buruk.
Kulihat kedepan karena ku tak mempunyai tujuan seperti biasanya. Seringnya aku berjalan tanpa adanya tujuan, jikapun ada tujuan itu yaitu untuk melupakan. Tapi telah lama kulupakan dirimu.

“Sudah lamakah kau melupakanku Insani?” suara itu timbul dari belakang mobil. Suara itu terdengar samar-samar dan kukenal. Itu suaramu Andjani, apakah aku sudah gila sekarang kumendengar suaramu sayangku. Dalam sesaat kupenjamkan mataku dan berpikir. Apakah suara itu datang dari otakku yang tidak waras.


“Insani kau selama ini berbicara denganku, aku disini!”
Sepintas kubuka mataku dan kutoleh kaca spion tengan dan melirik kebelakang. Wajah itu muncul lagi, sekarang lebih jelas terlihat seluruh mukanya. Muka itu hancur oleh tanah. Sepertinya asam tanah yang telah memakan beberapa kulit dan mata itu kosong. Selongsong lobang mata itu. Begitu dalam seperti jika kita melihat kedalam nya kita akan jatuh kedalam kekosongan. Wajah itu tersenyum tapi karena bibi r itu sobek senyuman itu menyentuh telinga dan memperlihatkan seluruh gigi yang ada di belakang. Senyum itu menakutkanku sampai kuberteriak menampar kaca dan menoleh kebelakang untuk melihat akan aslinya sosok itu. Tak ada apa-apa di belakang mobil. Seakan-akan sosok itu hanya tampil sesaat. Sepertinya salah satu dari pikiranku merasa kasihan padaku dan membalas pembicaranku kepadamu Djani. Tapi kenapa pikiranku bisa begitu jahat dan menampilkan pandangan yang bisa menyakitkan hatiku. Kenapa pikiran menampilan bayangan yang begitu mengerikan? Apa pikiranku beradaptasi dengan keadaan mu yang telah terkubur selama 1 tahun ini. Diantara semua kegilaanku kenapa dengan diriku?

“Kau tidak gila Sani. Aku disini, bila kau tak tahan melihat keadaanku janganlah kau melihat.” Ini semua merupakan kegilaanku saja. Tidak mungkinlah dia ada disini.
Dia sudah mati pikirkan itu, ini semua hanya dipikiranmu.

“Bukankah kau mengharapkan aku untuk kembali Sani? Selalu berada disampingmu, berpelukan dan mendekapmu.”
Aku membetulkan hal ini tapi ini semua bukanlah hal yang kupinta, dan tapi lagi mungkinlah kegilaanku. Aku menginjak gas, dengan satu tujuan,

RUMAH JAROD

Kosong dan sepertinya lampu sudah dimatikan. Bagus sudah kataku, aku tak mungkin datang kerumahnya dan mengatakan bahwa sekarang aku gila karena telah berbicara dengan Andjani.

“Pergilah ke Jarod, San.Turunlah. Tenangkanlah dirimu”
Kata-kata itu membuatku turun segera dan mengetuk pintu rumahnya. Beberapa lama kemudian Jarod membukakan pintu dan kaget melihatku. Dia bertanya dan antara ingin menjelaskan apa yang telah kualami dan membuat alasan kenapa aku datang kemari menjadi diamku sesaat. Setelah lama kukarang alasan kenapa aku tiba-tiba ingin mengingat kamar kostku karena adanya barang yang tertinggal. Sangat kusayangkan ketidakjujuranku.

Setibanya di kamarkostku yang dahulu. Jarod meninggalkan diriku seakan-akan percaya apa yang kuceritakan. Kamar kost itu gelap. Terdapat sinar-sinar membawa cahaya lampu depan. Aku sudah hafal dimana lampu yang bisa kunyalakan. Ini merupakan kamarku untuk 5 setengah tahun. Setelah cahaya lampu menerangi seluruh ruangan kududuk diatas kasur.

Kenapa aku akhirnya berbohong kepada Jarod? Kenapa aku tak menceritakan seluruhnya? Apa aku tak mau menodai kenangan Jarod terhadapmu Djani? Apapun yang akan kukatakan tak ada yang mencapai akal logika seorang manusia, dan setelah mengetahui Jarod sejak kecil di adalah manusianya manusia. Tak mempercayai takhyul dan akan membawaku langsung menuju rumah sakit jiwa.
“Terima kasih San, karena kau tak memberitahu Jarod. Sudah cukup penderitaanmu. Dan sekali lagi kau tidak gila. Aku disini untukmu. Kau telah berharap tiap hari ini selama 1 tahun. Dan akhirnya permintaan kau terkabul akankah kau senang?”
Djani, sepenuh apapun mauku tapi ini merupakan kegilaanku, kau tidaklah nyata. Kau berbicara hanya didalam otakku. Tak ada dari semua ini yang nalar bagiku. Didalam inti logika kau hanya hidup didalam pikiranku. Dalam kehidupan kau telah tiada jadi janganlah kau mengaku disini untukku jika kau memang tidak. Pikiranku telah membuat dirimu berada disini. Tapi sehatkah ini? Aku mungkin menginginkan dirimu dan tapi cara pikiran telah berbuat semaunya. Maafkan pikiran ini sayang?

“Tak ada yang salah, kau boleh berpikiran seperti itu, meskipun kenyataannya aku tetap disini, Sayang. Sani ingatkah kau ruangan ini? Sepertinya kenangan kita begitu banyak. Sayang waktu mengambil semua itu.”
Memang sayang, kenangan di ruangan ini. begitu manis, begitu banyak. Tapi kenangan itu juga menyakitkan diriku. Pernah aku ingat bahwa aku hidup
bernafas tertawa tanpa batas
Tetapi aku teringat bahwa aku pernah mati Mengingat kau sudah tiada. Sakit hatiku merindukan dirimu sayang. Akankah kau bahagia mengingatku?

“Sayangku Sani, aku selalu mengingatmu.”
Hatiku tertidur bersama gelapnya malam. Aku tak lagi memikirkan hal yang tidak-tidak. Karena kata-kata itu sangat menghangatkan hatiku. Kupejamkan mataku dan tidurlah aku.

Derasnya hujan yang tiba-tiba membangunkan diriku. Aku terbangun mendapati diriku terbangun di tengah pagi buta. Malam masih ingin menguasai langit sementara cahaya matahari masih dengan malasnya timbul karena derasnya hujan.
Gelap kamar itu. Remang-remang cahaya lampu luar menyinari kedalam. Sedikit tapi cukuplah untuk mata yang untuk beberapa lama tidak menerima cahaya.

“Sani tolonglah diriku”
Andjani....... apakah yang terjadi? Suara itu masih ada dalam pikiranku. Kupikir aku akan melupakan semua ini. Tapi dalam bahaya apakah pikiranku mengenai Andjani

“Sani datanglah tolonglah diriku”
Bergegas kubangun dan berangkat menuju entah kemana. Yang hanya ada dipikiranku hanya untuk datang kepadamu.

“Sani....!”

Tibalah aku didepan perkuburan, pikiranku telah gila untuk membuatku berada didepan gerbang ini. Tapi hujan teramat deras untuk membuatku berdiri di depan gerbang saja. Tiba-tiba teringat kupada bayangan yang menakutkan itu. Kuhentikan langkahku dan mengetahui bahwa aku telah berada di sini pada pagi hari di saat gelap.
Hujan menghantar beberapa tetes air yang mengalir di dahiku dan membuatku membasuhnya dengan bajuku yang basah. Apakah aku telah menjadi sangatlah gila sehingga diriku mampu berjalan diantara kuburan-kuburan itu mengetahui kuburanmu diantaranya dan bertanya ada apakah gerangan?
Ini gila aku tak bisa lakukan ini. Juga apakah yang kau risaukan sayang. Tidak ada yang bisa melukaimu lagi, kau sudah mati!
Maafkan aku sayang. Tingkat kegilaan ini telah mencapai puncaknya. Meskipun aku pernah berniat menginap disini itu pun, kusadari bahwa aku waktu itu masih belum terima hilangnya dirimu. Dan tak ada yang lain dipikiranku pada waktu itu. Aku gila untuk menemukan dirimu disini.
Pikiran ini, tolonglah aku, aku kedinginan, basah, dan gila. Bisakah kau hilangkan suara ini, bukanlah kau sekarang kau merasa cukup kasihan kepada diriku ini. Aku tiba di depan blok kuburan-kuburan itu. Kuburanmu berada entah dibelakang dan terlihat cahaya di arah itu. Dari kejauhan terlihat beberapa sosok orang tengah berkerumun di arah kuburanmu. Terpintas apakah ini yang kau risaukan sayangku. Siapakah orang-orang ini. Bergegas lagi kuberjalan cepat menuju kerumunan itu. Dalam perjalanan itu terlihat beberapa kuburan tengah terbuka dan bekas digali. Dan setelah cukup dekat dengan kerumunan itu. terlihat ketiga orang itu tengah memugar sebuah kuburan yang batu nisannya terbenam air hujan. Dan kuburan itu amblas masuk kedalam tanah. Salah satu orang dikerumunan itu terdapat Seto sang penjaga kuburan yang sering meminta upah untuk membersihkan kuburan sekitar sini. Kutatap wajahnya dan mereka bertiga berteriak ketakutan.
“Bapak ada apa di tengah malam begini kemari?” Mereka menanyakan dengan pandangan kearah kakiku, semustinya pertanyaan mereka adalah bapak hantu atau bukan.

“Tolong aku Sani..”
Suara itu, dimanakah engkau...?

Lalu kutatap kearah kuburanmu dan terlihat sesuatu mengadah keluar dari tanah. Langsung aku beranjak dan tanpa memikir panjang kugali kuburanmu dengan tanganku. Tanah itu terasa segar dan basah. Tiap kali kutancapkan tanganku aku merasakannya. Kasih sayangku yang selama ini kupendam. Segala keinginanku. untuk berbuat sesuatu untukmu. Untuk menunjukkan segala kasih sayangku kepadamu. Sekian lama kau tak sadarkan diri di rumah sakit. Menyebabkan aku terasa bisa berbicara denganmu dalam kesunyian. Setiap kali aku datang dan duduk disebelahmu kau serasa tersenyum mengetahuinya. Jalinan batinku tidak bisa menyatakan cintaku. Aku serasa tidak bisa berbuat apa-apa akan kematianmu. Setiap hari kutangisi kepergianmu dan kusesali segalanya. Dan sekarang jiwamu hidup dalam suatu bayangan di pikiranku berbicara kepadaku. Sehatkah ini, perlukah kau terus hidup sayangku.

“Aku disini atas keinginanmu Sani. Kurasakan begitu besarnya cintamu. Meskipun tak mungkin bagiku untuk berada disini. Apa yang kau rasakan adalah suatu kenangan belaka. Jika akan bisa kuhapus kenangan ini akan kuhapus selamanya. Aku menginginkan dirimu untuk bahagia. Dan terus terang aku tidak bisa melihat kau bersedih akan kenanganmu ini. Tolong aku San... tinggalkanlah kenangan itu dan teruskan hidupmu. Mungkin kalau waktu itu aku sempat berbicara denganmu. Aku akan katakan perpisahan untuk membuatnya lebih mudah untuk melepaskan diriku.”

Semua ini tidaklah masuk akal Djani. Meskipun aku berkeinginan untuk dirimu bukan sesuatu yang hanya ada dipikiranku. Dan meskipun kau tinggalkan diriku. Kenangan itu masih tetapku simpan.

“Sani aku akan pergi, meskipun aku hanya kenangan di pikiranmu. Sayangilah aku, aku akan pergi. Kumohon hapuslah diriku ini dari pikiranmu tapi ingatlah segala kenangan kita.”

Selama beberapa lama aku menggali. Tubuhmu mulai nampak.
Seluruh permukaan tubuhmu telah terbenam oleh air hujan yang turun.
Mukamu....wajah itu
Wajah itu adalah wajah yang kau tunjukkan kepadaku sayang. Begitu dingin dan kosong. Mungkinkah kau hidup akan keinginanku atau apakah itu pikiranku yang membayangkan realita akan bentuk tubuhmu yang sekarang ini. Kuangkat tubuhmu, kain kafan yang kupakaikan saat kumandikan dirimu telah berangsur-angsur punah dimakan waktu. Kupindahkan dirimu.
Dan menanti redanya hujan.

Air itu serasa ingin menyentuh dunia
Dan dalam hasrat yang begitu kuat ia mengalir
Mencari arah untuk jatuh kebawah dan menemui tanah
Dan membasahi segala doa kita
Menghapus segala noda darah dan membawanya pergi dari permukaan
Semoga darah mu turut terbawa dan menghapus dosa dan membasahi doamu

“Sani berjanjilah kau akan menjaga Gaisha!”
maafkan aku sayangku. Kau tahu akan hal ini. Ya aku akan menjaga dia.” Pesanmu selalu terjaga olehku Djani.

Dari kejauhan terlihat langit tengah memecah kegelapan.
Dan hitam segara berganti biru.
Menunggu matahari yang bangun.

Warna payung itu berbendera amerika. Sangatlah mencolok untuk daerah perkuburan ini. perlahan dengan hati hati kau berjalan menujuku. Bagaimana kau tahu aku disini? Dan aku harap kau tak menganggap aku ini gila! Gaisha....!

Aku berpeluh padamu. Kejadian demi kejadian. Harap kau mengerti akan pengaruhnya pada hidupku karena kasih sayang itu pasti ada.
Maafkan aku sebelumnya karena tak memperhatikan dirimu. Maafkan aku seluruhnya karena diriku terlalu membayangkan akan dirinya. Tapi makna demi makna akan berakhir dalam hidup ini.
Kukecup keningmu seperti pagi-pagi sebelumnya
Sayangku padamu...... Gaisha....!


Utamaputranto @635